goresan hidup seorang biduan

Memuat...

Minggu, 21 Maret 2010

Nyeri Tengkuk, Apa dan Mengapa

eramuslim - Semua orang pasti memiliki tengkuk, tapi tidak semua orang pernah mengalami
nyeri di tengkuk. Jangan dianggap remeh, karena tengkuk merupakan lintasan saraf kepala ke
punggung yang bisa berakibat fatal jika diabaikan.
Leher bagian belakang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah tengkuk atau kuduk.
Dalam bahasa Inggris disebut posterior neck. Leher terdiri atas ruas-ruas tulang belakang
yang berakhir didasar tengkorak. Sepanjang ruas-ruas tulang belakang diikat dengan ikatan
sendi atau ligamen seperti deretan karet yang kuat membuat tulang belakang menjadi stabil.
Di daerah leher juga terdapat otot-otot untuk menyokong beban leher dan untuk gerakan
leher. Bagian leher ini sangat sedikit dilindungi dibandingkan bagian tulang belakang yang
lain, sehingga sangat mudah terkena gangguan, trauma yang menyebabkan sakit dan
membatasi gerakan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada tengkuk, umumnya terjadi pada waktu kerja. Antara lain
terjadi pada pekerjaan dengan beban yang berat, pekerjaan manual dengan duduk, pekerjaan
yang duduk terus menerus. Dalam suatu sikap yang statis, otot bekerja statis dimana
pembuluh-pembuluh darah dapat tertekan, sehingga aliran darah dalam otot menjadi
berkurang yang mengakibatkan berkurangnya glukosa dan oksigen dari darah, dan harus
menggunakan cadangan yang ada. Selain itu, sisa metabolisme tidak diangkut keluar dan
menumpuk di dalam otot yang berakibat otot menjadi lelah dan timbul rasa nyeri.
Penelitian pada 251 responden pekerja didapatkan keluhan nyeri tengkuk menduduki
peringkat ke 4 (37.5%) setelah bahu kanan 53.8%, bahu kiri 47,4% dan pinggang 45%. Dari
hasil pemeriksaan didapat-kan prevalensi nyeri tengkuk sebesar 55.4% (Dina, 2004).
Nyeri pada tengkuk biasanya diakibatkan:
1. Trauma
Trauma luka atau keseleo disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor yang menyebabkan cedera lecutan
(whiplash injury), kecelakaan akibat pekerjaan atau akibat
kontak yang keras waktu olahraga atau perkelahian yang
kemudian menyebabkan sakit tengkuk.
2. Ketegangan kronis pada otot dan tendon daerah tengkuk
Sikap yang tidak baik selama bekerja menyebabkan
terjadinya ketegangan kronis pada tengkuk (misalnya
menundukan kepala yang berkepanjangan sehari-harinya)
dimana ligamen sangat regang, otot menjadi lelah, sendi
leher dan saraf tertekan.
3. Penyakit degeneratif dan radang
Diskus dan sendi pada leher sering mengalami perubahan
degeneratif yang prevalensinya meningkat sesuai umur. Hal
ini dapat mengurangi kapasitas kerja.
4. Herniasi diskus dari salah satu ruas tulang belakang dimana
diskus keluar dari antara ruas-ruas tulang belakang
tersebut.
5. Faktor psikososial
Faktor psikososial seperti beban kerja yang banyak,
pekerjaan yang monoton dan kontrol yang rendah pada
situasi pekerjaan serta tingkat sosial.
6. Kelainan kongenital
Seseorang yang lahir dengan bentuk vertebra yang tidak
normal atau sambungan yang lepas pada daerah leher
mungkin berkaitan dengan terjadinya sakit tengkuk bila
ruas-ruas tulang belakang mulai menekan spinal cord.
7. Infeksi
Salah satu gejala awal dari penyakit gondok, encephalitis
dan poliomy-elitis adalah kekakuan dan rasa sakit pada
leher.
8. Kanker
Tumor ganas pada leher menyebabkan sakit jika timbul
cukup besar untuk menekan saraf tepi dan spinal cord.
Penyakit lain yang juga dapat menyebabkan sakit tengkuk adalah rheumatoid arthritis dan
fibromyalgia.
Tiga pertimbangan utama terjadinya gangguan leher belakang pada waktu kerja:
1. Beban pada struktur leher dalam waktu yang lama,
berkaitan dengan tuntutan yang tinggi dari pekerjaan dan
kebutuhan stabilisasi daerah leher dan bahu dalam bekerja
dengan tangan.
2. Secara psikologis pekerjaan dengan konsentrasi tinggi,
tuntutan kualitas dan kuantitas secara umum
mempengaruhi aktivitas otot leher.
3. Diskus dan sendi pada leher sering mengalami perubahan
degeneratif yang prevalensinya meningkat sesuai umur.
Faktor risiko ditempat kerja, biasanya diakibatkan karena sikap tubuh, antara lain:
a. Abduksi dan forward flexion (kepala turun maju kedepan)
lebih dari 300 dapat mengakibatkan faktor risiko oleh karena
adanya penekanan pada otot supraspinatus > 30 mmHg
sehingga terjadi gangguan aliran darah.
b. Sakit tengkuk/leher ditemui pada pekerja yang dituntut
bekerja dengan sikap kerja tersebut dalam waktu lama.
Umumnya terjadi pada industri perakitan, bekerja dengan
Visual Display Terminal (VDT), mem-bungkuk, mengepak.
c. Sikap kerja yang baik yaitu dengan duduk yang tidak
berpengaruh buruk terhadap sikap tubuh dan tulang
belakang, adalah sikap duduk dengan sedikit lordosa pada
pinggang dan sedikit kifosa pada punggung dimana otot otot
punggung menjadi terasa enak.
Sikap duduk yang baik adalah tidak menghalangi pernafasan, tidak menghambat sistem
peredaran darah, serta tidak menghalangi gerak otot atau menghalangi fungsi organ-organ
dalam tubuh.
Dalam bekerja dengan duduk perlu beberapa pesyaratan, yaitu:
1. Pekerja dapat merasa nyaman selama melaksanakan
pekerjaannya. Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan
memuaskan.
2. Suatu pegangan alat yang bergetar, dapat mempengaruhi
kontraksi otot dalam rangka menstabilkan tangan tersebut,
dan alat dengan demikian dapat menimbulkan efek lelah
pada leher.
3. Gerakan berulang yang dilakukan dengan tangan akan
meningkatkan kebutuhan stabilisasi daerah leher dan bahu,
dengan demikian akan meningkatkan risiko keluhan leher.
4. Organisasi pekerjaan ini digambarkan sebagai distribusi
pembagian tugas pekerjaan, lama kerja, lama istirahat &
makan. Jangka waktu antara bekerja dan waktu istirahat
mempunyai efek pada kelelahan jaringan dan
penyembuhannya. Pekerjaan dengan berbagai macam
tugas, menghasilkan ketidakleluasaan postur dan beban
statis yang rendah untuk daerah leher dan lengan.
5. Hubungan antara faktor psikososial terhadap pekerjaan dan
gangguan pada daerah leher telah ditunjukan oleh
beberapa studi. Antara lain mengenai tekanan psikologi
yang dirasakan, kontrol yang rendah dari organisasi
pekerjaan, hubungan yang buruk dengan manajemen dan
teman kerja dan permintaan yang tinggi akan ketelitian dan
kecepatan.
6. Karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, kekuatan
otot dan daya tahan, kebugaran fisik, ukuran tubuh,
kepribadian, kecerdasan, kebiasaan waktu senggang
(aktivitas fisik, merokok, alkohol, diet) rentan terhadap sakit
otot. Untuk kebanyakan sakit otot, risiko meningkat sesuai
usia. Wanita biasanya dilaporkan lebih tinggi tingkat risiko
untuk terjadinya nyeri otot di leher dan bahu dibandingkan
pria.
Terapi atau Pengobatan terdiri dari:
a. Istirahat, obat-obatan, immobilisasi, fisioterapi, latihan-latihan
dan kombinasi dari metode-metode ini. Saran mengenai
ketinggian kursi dan sikap pada saat bekerja. Mengkoreksi
sikap mental atau sikap badan.
b. Pemberian obat per os (anti inflamasi) untuk jangka
panjang biasanya diperlukan antara lain pada penderita
tension headache.
c. Pengobatan dengan pemanasan terutama panas yang
lembab sekali dapat mengendurkan otot yang kram, tetapi
harus dilaksanakan dengan cepat.
d. Kekuatan dan latihan aerobik dapat mengurangi rasa sakit
dan meningkatkan kapasitas kerja pasien. Dianjurkan
melakukan senam untuk melemaskan otot dan memelihara
fungsi sendi-sendi tulang leher secara optimal dengan cara
berdiri tegak dengan posisi kedua kaki sedikit jauh satu
sama lain, kedua bahu ditarik kebelakang. Dilakukan
gerakan anggukan kepala, tengadahkan kepala, gelengkan
kepala kekiri dan kekanan secara cepat semaksimal
mungkin dan diulangi berkalil-kali.
e. Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengurangi
tekanan pada spinal cord atau akar saraf pada nyeri yang
disebabkan oleh hernia pada diskus atau kanalis spinalis
seperti pada cervical spondylosis. Juga untuk menstabilkan
leher dan meminimalkan kemungkinan terjadinya
kelumpuhan seperti ketika terjai fraktur yang
mengakibatkan ketidak-stabilan leher.
Pencegahan untuk mendapatkan pasien yang sehat dan secepatnya kembali bekerja adalah
kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan lingkungan kerja yang baik. Untuk mencegah
terjadinya nyeri tengkuk ada beberapa nasehat yang bermanfaat:
a. Menghindari bekerja dengan kepala turun atau satu sisi
dalam waktu yang lama, peregangan dan posisi yang sering
berulang.
b. Sikap tubuh yang baik dimana tubuh tegak, dada terangkat,
bahu santai, dagu masuk dan pada tingkatan kepala, leher
merasa kuat, longgar dan santai.
c. Tidur dengan bantal atau bantal urethane.
d. Memelihara sendi dan otot yang fleksibel dan kuat dengan
latihan yang benar pada leher. (to/snr)

2 komentar: